21 April 2020

Saat kepala Asiyah bocor 😭

0 komentar
Senin malam itu tanggal 6 April 2020, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Tapi anak-anakku no 1, 2, dan 3 belum juga beranjak tidur. Mereka masih asik bermain dan melompat-lompat di kasur.

"Ayo sayang pada tidur", kataku.

Tapi mereka tetap asik melompat2 di atas ranjang.

"Ya sudahlah", pikirku. "Nanti juga kalo udah ngantuk bakal tidur sendiri".

Aku bergegas pindah ke kamar tidur belakang, menidurkan bayiku, anak no 4, agar tidak terganggu suara kakak-kakaknya.

Saat sedang menyusui bayiku, tiba-tiba terdengar suara Asiyah menangis kencang. Perasaanku sebagai ibu udah ngga enak. Pintu kamar diketuk-ketuk Qonitah dan Fathimah.

"Bunda, buka bunda, buka....Asiyah bunda, asiyah..." teriak mereka.

"Kenapa?" Aduh ada apa ini, aku merasa ini bukan nangis kayak biasanya.

"Kesini dulu, liat Asiyah, kepalanya berdarah...."

"Astaghfirullah....", sambil kugendong Baby Bintang, aku panggil suamiku untuk ikut melihat ke kamar tidur depan.

*****
Ku lihat, Asiyah menangis kencang sambil memegang kepalanya dan di tangannya ada darah.

Aku teriak spontan, "Ya Allah, Ya Allah, Asiyah sayang, kenapa...?" aku spontan ngga bisa berhenti menangis. Aku ngga tega.

"Bunda....bunda...." , Asiyah hanya memanggilku tanpa menjawab.

"Tadi Asiyah lompat2 di kasur terus jatuh kena pinggiran kasur...", jawab kakaknya.

Rasanya jantungku mau copot, berdegup sangat kencang dan tak beraturan.

"Ya Allah, selamatkan anakku .."

Ayahnya segera menenangkannya. Lalu memeriksa luka di kepala Asiyah.

"Ada yang robek, mas?"

"Iya, tenang dulu...Bunda jaga bayi saja...Bunda ga boleh nangis, bunda udah biasa kan liat darah"

Ayahnya tau aku sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anak dan mudah menangis melihat anak sakit.

Asiyah segera di bersihkan dulu luka-luka dan darahnya oleh Ayahnya dengan kapas dan betadine.

"Robek banyak?" tanyaku cemas.

"Sekitar 2cm.."

Aku memberanikan diri melihat lukanya.

Ya Allah, ngilu aku melihatnya.


"Ayo ke IGD mas, itu lukanya kebuka banyak, harus dijahit, kalo ngga, nanti kuman masuk bisa infeksi..."

Aku segera menyuruh anakku yang pertama membangunkan asisten rumah tangga kami. Aku menitip bayiku dan ke dua anakku padanya.

*****
Sesampainya di RS.

Segera, aku dan Ayahnya membawa Asiyah ke RS terdekat. Kami langsung masuk ke ruangan IGD. Dan menceritakan pada dokter jaga malam mengenai apa yang terjadi pada anakku. Lalu dokter melakukan anamnesa (tanya jawab) dan pemeriksaan ke kepalanya. 

"Siapa yang sakit Bu?" tanya seorang lelaki tanpa ku ketahui wajahnya karena memakai gaun scrub dan masker.

"Anak saya , dok..."

"Kenapa anaknya Bu?"

"Bocor kepalanya, jatuh".

Aku menceritakan kronologis terjadinya,  penyebab dan waktu terjadinya. Alhamdulillah tidak ada muntah, kejang, panas setelah kepalanya terbentur pinggir kasur.

Sesudah ditanya-ditanya, kami disuruh menunggu dulu di salah satu ruang perawatan IGD. Ayahnya mengurus administrasi dulu ke bagian pendaftaran RS. Sedangkan aku memeluk dan mengusap kepala anakku sambil menenangkannya. 

Sekitar 1/2 jam menunggu, Asiyah dipanggil ke ruang tindakan oleh seorang dokter yang berbeda dan asisten perawat lelaki.

Posisi anakku disuruh tengkurap dan kepala di miringkan. Aku di sisinya memeganginya.

Seorang perawat bertanya ,"Ibu kuat ga ngliatnya? Kalo ga kuat nunggu diluar saja ya..."

"Aku mau sama bunda..." pinta anakku.

"Iya, sayang, bunda nemenin Asiyah..."

"Saya disini saja sus, mendampingi anak saya.." kataku pada perawat tadi.

Segera dilakukan tindakan pembersihan ke luka di sisi kiri kepala anakku. Sebelumnya di cukur/digunting dulu bagian rambut yang tumbuh pada luka robek dan sekitarnya untuk memudahkan proses penjahitan. Selanjutnya luka di deep betadine+kassa sterile berkali-kali sampai mengering. Lalu berkali-kali juga di semprot disinfektan / semprotan NaCl. Kemudian di deep betadine lagi dan dokter melakukan anestesi lokal di bagian lateral ke dua sisi kulit kepala dari luka. 

Alhamdulillahnya, Asiyah sangat koperatif dan tidak menangis saat jarum anestesi menembus kulit kepalanya. Setelah baal, dijahit luka sebanyak 4 jaitan. Setelah itu dokter menempelkan antibiotik yang bentuknya seperti plester ke atas luka jaitan lalu mengikatkan benang di kedua ujung masing-masing + memasang perban.


Selanjutnya meresepkan obat antibiotik  Amoxicillin syrup dan obat analgetik Sanmol syrup untuk anakku. Setelah membayar dan menebus obat, kami pun boleh pulang.



Selama seminggu, Asiyah aku keramasi dengan hati2 tanpa menyentuh bagian sisi kiri kepala yang ada bagian luka agar lukanya cepat mengering.

*****
Seminggu kemudian
Kontrol jahitan

Kami menunggu di poli dokter umum RS yang sama. Sebenarnya bisa kontrol dan buka jahitan dimana saja. Tapi aku memilih di RS yang sama agar tidak banyak bercerita berkali-kali, semua sudah ada catatan di medical recordnya.

Tibalah nama anakku dipanggil.

"Bagaimana kondisinya, dok?" tanyaku berharap baik-baik saja.

"Udah kering nih bu, udah boleh saya lepas benangnya ya....", jawab dokter, setelah melepas perban dan memeriksa bekas luka anakku.

"Baik dok..."

"Ada 4 ya bu benang jaitannya..."

"Benar, dok "
"Udah boleh kena air, dok?" tanyaku lagi.

"Boleh bu, udah kering nih.." dokter memperlihatkan padaku. Lalu di oles betadine.



Kembali ke kursi.

"Bekas lukanya bisa hilang , dok?"

"Saya resepin salep ya bu...biar bekasnya memudar. Kasian ya, anak perempuan kalo pitak keliatan bekasnya nanti minder."

"Iya, bener dok..." kataku mengiyakan.

Selesai pemeriksaan, akupun izin permisi.

"Terimakasih ya dok, terimakasih sus, kami pulang dulu"

"Iya bu" , dokter dan asisten menjawab dengan ramah.

Sampe sekarang, salepnya masih aku berikan selepas mandi pagi dan sore. Bekas jaitan lukanya di kulit agak menimbul. Semoga bisa pudar dan kembali sediakala.

Pakai ini sediaan salepnya.
Sanoskin Melladerm.




Ya Rabb...
Lindungilah semua anak-anakku dari segala marabahaya.
Aamiin πŸ™πŸ™πŸ™




12 April 2020

Beli Endomotor idaman ! :)

0 komentar
Sebelum terjadi pandemic dan kegiatan kumpul2 masih belum dilarang, saya sempat mengikuti seminar dan hands on terakhir yang di selenggarakan pihak PDGI di kota saya.

Seminar dan HO itu tak hanya untuk menambah jumlah SKP yang wajib dikumpulkan untuk memperpanjang STR, tapi utamanya juga untuk mengupgrade skill kita dalam praktek kedokteran gigi.


Sungguh beruntung bisa belajar langsung dari master2 Endodonti. Salah satunya belajar dari Drg Rio, SpKG. Beliau ini setahun dibawah saya angkatannya, tapi pengalaman dan jam terbangnya lebih tinggi dari saya. Jago sekali drg yang satu ini. Saya sangat kagum melihat foto2 hasil kerjanya, nyaris sempurna. Namun, walo hebat, tapi beliau tetap humble pada senior2 yang beliau ajari. Dari beliau-lah, saya dan para peserta diajarkan cara membuat artificial wall sebelum menumpat tambalan kelas 2, juga trik membuat palatal wall sebelum merestorasi kelas 4 . Beliau tidak pelit ilmu. Semua tips dan trik diajarkan dan di share semua.

Kebetulan saya juga paling hobby mengerjakan restorasi dan endodonti. The items I must have adalah Endomotor. Ternyata bikin pekerjaan preparasi root canal jadi lebih mudah dan lebih cepat.
Dibanding pake file2 manual seperti ini. Lebih memakan waktu.


Jadi resolusi saya ditahun ini adalah menabung untuk membeli endomotor...πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.


Suasana hands on Pecaaah !!! 😊😊😊


Seru pembicaranya πŸ’–πŸ’–πŸ’–

10 April 2020

Manado, The Beautiful City :)

0 komentar
Bagi saya, Manado adalah rumah kedua saya setelah Bekasi. Karena cukup lama saya tinggal menetap disana, beberapa tahun lampau. 

Kota ini sungguh unik. Memiliki banyak pantai, pemandangan lautan, serta kuliner yang enak2. Pusat kota ini berdiri di pantai yang di reklamasi. Tapi, ngga enaknya di sini sering sekali mati lampu. Hehe.
Jalanan di sini banyak yang berkelok2 karena kota ini terdiri dari banyak pegunungan dan perbukitan.

 Disini ada taman laut terindah dan terbesar di dunia, yaitu Taman Laut Bunaken.

 Para wisatawan banyak datang ke sini untuk diving.


Angkutan umum disini unik. Berbeda dengan angkot di Bekasi atau mikrolet di Ibukota. Angkot disini kursinya menghadap ke depan semua dan 1 kursi untuk 1 penumpang. Ngga empet2an. Angkotnya pun enak, kadang ada TV kecil dalam angkot, kalo nyalain musik gede2 supir angkot disini, bahkan ada angkot yang pake CCTV segala, haha πŸ˜ƒ. Bener2 angkotnya di dandanin. 

Kalo turun dari angkot atau ojek, di Bekasi biasanya saya bilang : "kiri, bang..". Berbeda dengan disini, "muka, bang..". Pernah saya bilang , "kiri....kiri", abangnya ga ngerti, lanjut aja jalan. Ketahuan ya saya pendatang, hehe.

Orang Manado biasa nyebut muka = depan.

Banyak sekali makanan khas sini yang saya sukai. Tentunya saya hanya mengkonsumsi yang halal, saya tidak memakan daging B2. Apalagi makanan lautnya, anda wajib mencoba, Fresshh dan nikmat πŸ˜‹


Ini bebek langowan, pedas dan nikmat. Khas bumbu2 masakan Minahasa.

Oiya, uniknya pula kalo manggil orang disini bukan Mas atau Mbak. Tapi cewek atau cowok 😁.

Saya sangat suka melihat orang Manado berbicara bahasa Manado. Bahasanya unik.

See u next time, InsyaAllah kami mau berkunjung kembali kesini...πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

"TORANG SAMUA BASODARA"

8 April 2020

Cara Menghitung Dosis Parasetamol

0 komentar
Hi Moms :)

Mom yang baru punya bayi atau anak kecil, pasti sehari-hari akan terbiasa berjumpa dengan penyakit langganan pada anak, seperti demam, batuk, pilek, dll.

Dan obat antipiretik lini pertama yang aman untuk bayi dan anak adalah Parasetamol.


Parasetamol ini bisa kita temui dalam obat Sanmol, Tempra, Panadol, dll. Ini obat wajib yang harus tersedia di kotak P3K di rumah kita.

Bagaimana dengan dosisnya?
Paling tepat dan akurat adalah mengacu pada BB atau Berat Badan anak masing2. Sedangkan dalam kemasan, biasanya mengacu pada usia anak.

Berikut saya share cara menghitung dosis PCT (Paracetamol) :

Dosis Parasetamol: 10 - 15 mg/kgBB.

- Drops lebih pekat, makanya dalam jumlah mL yang kecil sudah mengandung mg yang cukup banyak. Hampir semua sediaan parasetamol drops seragam konsentrasinya, yaitu 80 mg/0,8 mL atau mudahnya 100 mg/1 ml.

- Sirup lebih encer, umumnya terdiri dari dua macam konsentrasi, yaitu 120 mg/5 mL dan 160 mg/5 mL, tergantung merek dagangnya.

- Forte lebih pekat dibandingkan sirup, yaitu 250 mg/5 mL. Sebenarnya sediaannya sirup juga, hanya saja untuk anak yang lebih berat badannya.

CONTOH:
Seorang anak berusia 2 tahun dengan BB 12 kg.

Pertama, tentukan dulu berapa dosis yang dibutuhkan anak ini. Yaitu 120 - 180 mg, sesuai rumus yang sudah dituliskan di atas.

Kedua, konversikan ke dalam mL. Nah, ini tergantung dengan sediaan parasetamol yang kita miliki di rumah. 

-Jika menggunakan drops, maka Anda butuh 1,2 mL - 1,8 mL parasetamol.

-Dengan sirup 120 mg/5 mL. maka berikan 5 mL - 7,5 mL parasetamol, dan dengan sirup 160 mg/5 mL, maka 5 mL juga boleh (bukankah 160 mg berada dalam kisaran 120 - 180 mg?).

-Nah, jika yang dimiliki parasetamol forte, boleh digunakan? Silakan saja, 125 mg setara dengan 2,5 mL parasetamol forte kan? Angka ini pun berada dalam kisaran dosis 120 - 180 mg.

Sekian 
Semoga bermanfaat...

Note:
Saya sangat merekomendasikan untuk para Moms mengikuti Milis Sehat dan mengikuti acara2 Pesat yang sering di adakan oleh Milis Sehat jika di selenggarakan di kota2 kalian. Pesat ini di pelopori oleh Yayasan Orangtua Peduli (YOP), sangat bermanfaat untuk menambah wawasan para orangtua...:)

2 April 2020

De Quervain Syndrome yang membuatku sulit menggendong bayi

0 komentar
De Quervain Syndrome, koreksi ya jika saya salah dalam ejaannya. Saya di diagnosa dokter rehab medik mengalami syndrome tersebut.

Awalnya pasca melahirkan, saya hanya mengalami rasa kram/nyeri di area paha kiri dan menjalar ke (maaf) area selangkangan kiri. Sakitnya berasa sekali ketika sedang berdiri apalagi berjalan dan naik motor yang kakinya harus melebar. Saya pikir bakal sembuh sendiri seiring waktu. Saya hanya urut di tukang urut langganan dan melanjutkan mengkonsumsi suplemen kalsium seperti disarankan dokter kandungan, dan multivitamin hamil menyusui lainnya hingga minimal 6 bulan setelah melahirkan.

Sebulan pasca melahirkan, ternyata sakitnya tidak mereda. Kualitas hidup saya mulai terganggu. Bahkan ditambah nyeri di pergelangan tangan kanan yang menjalar ke pangkal ibu jari kanan. Ibu jari tidak bisa ditekuk. Jika saya memaksakannya, akan terasa sakit. Akibat sering menjadikan tangan kanan untuk bantalan kepala saat berbaring miring untuk menyusui bayi. Ya Allah, sakitnyaaa luar biasa. Saya sering meringis sakit walaupun tersentuh pelan aja, mau menangissss 😭.

Alhasil, saya tidak bisa kerja berat dulu selama tangan masih sakit.
Akhirnya , saya memutuskan ke dokter. Nyeri di pergelangan tangan sudah ngga tertahankan. Apalagi saat menggendong bayi, tangan ngga kuat, harus menahan sakit yang luar biasa.

Teman yang seorang dokter umum menyarankan untuk pergi ke dokter rehab medik. Alias dokter spesialis KFR (Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi). Mungkin kalau tidak membaik, saya akan check up ke dokter bedah orthopedi dan traumatologi.

Tiba saatnya pergi ke dokter Sp.KFR. 
Tak perlu antri lama, nama saya ternyata langsung di panggil setelah mendaftar di bagian pendaftaran. Saat dokter melakukan anamnesa, saya pun menyampaikan semua keluhan secara detail.

Lalu beliaupun melakukan pemeriksaan fisik. 
Dokter menyampaikan bahwa untuk nyeri di paha dan (maaf) selangkangan kiri  itu memang kadang terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Saat dokter menekan, memang terasa kesakitan. Namanya peregangan atau over strech. Penyebabnya, saat proses mengeluarkan bayi, terlalu ketarik...Sehingga otot2 di sekitar bagian itu mengalami peregangan. Maka muncul lah rasa nyeri.

Setelah itu, dokter juga menekan pergelangan tangan kanan dan titik titik sepanjang pangkal ibu jari. Auww, beliau menekan di titik yang pas memang meradang. Nyeri banget.

Dokter menyatakan diagnosanya dalam bahasa kedokteran adalah "De Quervain Syndrome". Intinya, ada inflamasi (peradangan) di tendonnya (selubung otot). Yah kemungkinan di sebabkan karena tangan sering di jadikan bantal plus sering menggendong bayi dimana posisi kepala bayi di bagian lengan itu.

Singkatnya, saya diberi terapi obat2an penghilang nyeri (obat-obatan anti radang dan gel anti inflamasi) dan fisioterapi sebanyak 6x (1 periode). Selanjutnya, setelah menyelesaikan tahapan fisioterapi, akan di lakukan kontrol kembali untuk evaluasi.

Terapi yang saya lakukan adalah infrared, yaitu penyinaran dengan sinar infrared dan ultrasound therapy.

Untuk obat-obatan yang harus di minum berdasarkan resep dokter : Ostelox 15 mg dan Faldene Gel.



Saat menebus resep, Osteloxnya ternyata lagi kosong. Diganti Movix yang isi kandungan aktifnya sama, Meloxicam 15 mg.

Untuk terapi, saya datang 2x seminggu langsung ke poli rehabilitasi. Yang menangani saya adalah para fisioterapis. Penyinaran 2x (di area organ bawah dan di area pergelangan tangan, tujuannya untuk mengurangi rasa sakit) dan 1x di pijat di area pergelangan tangan. Berikut nama treatment yang saya jalani beserta biayanya.


Saya juga di sarankan memakai alat pelindung pergelangan tangan wrist splint Oppo (hand splint) untuk melindungi agar tangan tidak terasa nyeri saat kena gesekan. Ada plat besinya sebagai pelindung. Dan di rumah, sering2 di lakukan kompres dingin untuk meminimalisir nyeri pembengkakan pada area yang nyeri. Sekarang masih dalam tahap penyembuhan 😊.

Ini wrist splintnya, bukan buat gaya-gayaan lho. Hehehe..:D
Ngga nyaman pake ini juga, biasanya kalo makan sama menulis saya lepas.


Alhamdulillah, walaupun lengan dan pangkal ibu jari saya belum sembuh total, masih memakai wrist splint karena masih nyeri tapi sudah lumayan berkurang nyeri dan bengkaknya. Alhamdulillah saya sudah bisa menggendong bayi lagi. Semoga tidak sampai ke tindakan bedah. Tindakan bedah bisa jadi terapi lanjutan jika nyeri yang saya alami tidak memberikan respon pada tindakan konservatif. Dilakukan tindakan bedah untuk dekompresi pada kompartemen dorsal pertama dari pergelangan tangan.

Saran saya untuk teman2 yang suka online, baik lewat HP atau laptop, istirahatkan sejenak tangan dan mata anda tiap setengah jam, supaya tidak mengalami penyakit-penyakit (syndrome-syndrome) yang tidak di inginkan. Jangan pula meletakkan kepala di atas lengan terlalu lama.

Sekian sharing dari saya.
Semoga bermanfaat :)

Note :

Berikut saya copas penjelasan lengkap tentang De Quervain Syndrome, yang saya kutip dari sumber referensi sebuah web kesehatan:

De Quervain’s tenosynovitis atau de Quervain syndrome adalah rasa sakit disertai pembengkakan di pangkal ibu jari dan pergelangan tangan. Rasa sakit ini disebabkan oleh peradangan pada selubung tendon yang terletak di pangkal ibu jari.

Tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan otot dan tulang untuk membantu pergerakan tulang. Tendon yang meradang akan membengkak dan terasa sakit jika digerakkan.

Bila cepat ditangani, de Quervain’s tenosynovitis dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan terapi. Namun pada kasus yang parah, penderita perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut untuk mengatasi de Quervain’s tenosynovitis.

Gejala De Quervain's Tenosynovitis

De Quervain’s tenosynovitis ditandai dengan rasa sakit dan pembengkakan di dekat pangkal ibu jari atau jempol, yang bisa muncul bertahap atau mendadak. Rasa sakit ini biasanya makin parah saat menggerakkan jempol atau pergelangan tangan, misalnya ketika mencubit atau menggenggam.

Kondisi ini sebaiknya cepat ditangani. Bila dibiarkan, rasa sakit bisa menjalar sampai ke lengan.

Kapan harus ke dokter

Periksakan diri ke dokter bila jempol dan pergelangan tangan tetap terasa sakit meski tidak sedang digerakkan atau setelah dikompres dingin. Penderita mungkin akan memerlukan pemeriksaan lanjutan jika rasa sakit tidak hilang meski sudah mengonsumsi obat pereda nyeri.

Penyebab De Quervain's Tenosynovitis

Pada beberapa kasus, de Quervain’s tenosynovitis disebabkan oleh cedera pada pergelangan tangan dan penyakit radang sendi.

De Quervain’s tenosynovitis dapat terjadi pada siapa saja, namun lebih berisiko menyerang orang yang memiliki faktor risiko berikut:

Berusia antara 30-50 tahun.Berjenis kelamin perempuan.Mengalami perubahan hormon akibat kehamilan.Memiliki pekerjaan atau hobi yang melibatkan gerakan berulang pada ibu jari dan pergelangan tangan, misalnya bermain tenis atau bermain game di smartphone.

Diagnosis De Quervain’s Tenosynovitis

Untuk menentukan apakah pasien menderita de Quervain’s tenosynovitis, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien, kemudian melakukan pemeriksaan fisik, termasuk dengan menekan pergelangan tangan yang terasa sakit.

Dokter juga akan melakukan tes Finkelstein. Dalam tes ini, pasien akan diminta untuk mengepalkan tangan dengan menempatkan ibu jarinya di dalam kepalan. Tangan yang terkepal tadi kemudian dibengkokkan ke arah jari kelingking. Jika pangkal ibu jari terasa nyeri, pasien diduga kuat terkena de Quervain’s tenosynovitis.

Pengobatan De Quervain’s Tenosynovitis

Pengobatan de Quervain’s tenosynovitis bertujuan untuk mengurangi nyeri dan peradangan, serta mengembalikan kemampuan gerak ibu jari dan pergelangan tangan. Metode pengobatannya meliputi:

Pemberian obat pereda nyeri, seperti ibuprofen dan naproxen.Pemberian suntikan kortikosteroid di area tendon, untuk meredakan pembengkakan.Pemasangan belat atau bidai, untuk menjaga agar ibu jari dan pergelangan tangan tidak bergerak. Alat ini perlu digunakan selama 4-6 minggu.Operasi pada area yang terasa nyeri, bila penanganan dengan cara lain tidak berhasil mengatasi keluhan.

Untuk mengurangi nyeri, peradangan, dan membantu proses penyembuhan, penderita de Quervain’s tenosynovitis dianjurkan untuk mengompres area yang bengkak dengan kompres dingin, serta tidak melakukan gerakan atau aktivitas yang memicu nyeri untuk sementara waktu.

Pasien juga bisa meminta bantuan terapis untuk mengajarkan teknik menggunakan dan memperkuat otot pergelangan tangan.

Jika diobati lebih awal, de Quervain’s tenosynovitis dapat sembuh dalam 4-6 minggu. Setelah pembengkakan hilang, ibu jari dan pergelangan tangan dapat kembali digunakan secara normal tanpa disertai rasa sakit.

Pencegahan De Quervain’s Tenosynovitis

De Quervain’s tenosynovitis dapat dicegah dengan tidak melakukan gerakan yang berulang pada pergelangan tangan. Namun, jika pekerjaan mengharuskan Anda untuk melakukan gerakan tersebut, istirahatkanlah pergelangan tangan Anda secara berkala di sela-sela kegiatan dan kenakan pelindung atau belat di pergelangan tangan.

(Oleh : dr. Merry Dame Cristy Pane)

1 April 2020

Protokol Tindakan di Poli Gigi dan Mulut terkait Covid19

0 komentar
PROTOKOL TINDAKAN DI POLI GIGI DAN MULUT TERKAIT COVID 19

Tercekat hati saya membaca berita yang beredar di kalangan teman2 PDGI bahwa beberapa dokter gigi telah meninggal dunia menjadi korban Covid 19. 

Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun 😒

Bahkan beberapa dokter gigi ada yang sudah positif terkena covid 19 karena kontak dengan pasien yang tidak bergejala.

Kadangkala, profesi ini memang sering di pandang sebelah mata dan masih di "anaktirikan" di beberapa tempat yankes. Namun, bagaimanapun tetap dibutuhkan masyarakat. Bagaimana tidak dibutuhkan sedangkan mulut adalah "pintu gerbangnya" tubuh kita. Infeksi pada gigi berlubang saja bisa menyebar ke organ dalam lainnya tubuh kita, kuman bisa menjalar ke jantung, ke ginjal bahkan ke janin jika seseorang sedang hamil. Dan berakibat fatal.

Dan dalam kasus pandemi sekarang ini, profesi dokter gigi termasuk kelompok high risk alias paling rentan terpapar. Virus ini bisa menyebar lewat droplet (cairan dalam tubuh, katakanlah saliva dalam mulut). Maka itu pemerintah menganjurkan social/physical distancing (menjaga jarak), sedangkan tugas kita sebagai operator malah buka2 mulut orang....Kan rentan.

Pakailah Alat Pelindung Diri yang memadai, saat bekerja. Sedih melihat sebagian teman2 harus memakai jas hujan plastik saat bekerja. Memang APD, masker, hand gloves, face cover atau kacamata google sekarang harganya mahal. Naiknya berkali2 lipat. Jahatnya mereka yang tega menimbun masker. Stock yang saya miliki aja stock lama. Jika tidak ada APD, tidak usah praktek dulu. Utamakan keselamatan nyawa kita, teman2. Kecuali yang memang praktek di Puskesmas atau RS. Memang tidak libur. Usahakan meminimalisir tindakan yang menimbulkan aerosol. Kasih premed aja dulu...Kecuali kasus2 dental emergency.

Saya sendiri lebih memilih memperpanjang cuti melahirkan saya sampe pandemi ini berakhir. Saya sangat khawatir dengan keluarga saya. Terutama orangtua saya yang sudah berumur dan memiliki penyakit penyerta dan anak2 saya. 

Oiya....Berikut PB PDGI telah menyampaikan Protap Tindakan di Poli Gigi dan Mulut. Silahkan diterapkan di tempat kita masing2.

Bismillah ...





TAHAP I 
Pasien : 
1. Setiap pasien masuk diperiksa suhu tubuh.
Tunda perawatan bila suhu diatas 37.5 atau ada gejala flu atau vital sign tidak normal.
2. Pasien mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
3. Pasien duduk didental unit dan berkumur povidone iodine.
4. Pasien memakai slaber sekali pakai tanpa penjepit.
5. Selesai perawatan,  pasien menunggu resep diluar ruangan.
6. Penunggu pasien tidak boleh masuk ke ruangan.

Ruangan :
1. Meja dental unit bersih dari semua alat dan bahan.
2. Handle lampu, meja dan pegangan tangan dibersihkan dengan tisu desinfektan setiap selesai pasien. (Tisu disinfektan , misalnya cavicide, caviwipes).
3. Hindari makan dan minum di ruangan terutama ketika ada pasien.
4. Ruangan di desinfeksi setiap hari, setelah pasien selesai.

Sterilisasi :
1. Pencucian alat menggunakan urutan : cuci dengan air sabun, enzyme, air bersih, natrium hipoklorit, air bersih, keringkan dan langsung masuk autoclave.
2. Handpiece, jarum endo hanya dipakai untuk 1 pasien, setelah itu langsung disteril.
3. Scaller, three way syringe dan alat lain yang menimbulkan aerosol dan  tidak bisa disterilkan autoclave, diminimalkan/ tidak dipakai selama wabah covid 19 berlangsung.
4. Keyboard computer dibersihkan dengan desinfektan sebelum dan sesudah bekerja.
5. Semua alat termasuk sendok cetak dibawa ke cssd setelah poli tutup.
6. Semua komposit, botol eugenol, botol tumpatan sementara dibersihan dengan desifektan.
7. Hand piece, mata bur, jarum endo dapat digunakan kembali setelah  disteril autoclave.

Dokter gigi :
1. Tidak bersalaman atau kontak fisik dengan siapapun.
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah melayani pasien.
3. Memakai masker ketika berkonsultasi dengan pasien.
4. Memakai handschoen non steril ketika melakukan pemeriksaa.
a. Tindakan2 yang berisiko menghasilkan aerosol (seperti scalling, three way syringe, drill  dan tindakan lain yang mebuat airflow) yang sifatnya tidak mendesak, mohon untuk sementara diminimalkan. 

APD :
1. Konsultasi gunakan masker.
2. Tindakan  : gunakan gown steril,nurse cap, handschoen steril atau double handschoen , google / face mask dan masker.
3. Buang handschoen dan masker setelah selesai tindakan.
4. Cuci google /face mask dengan sabun dan air mengalir setiap selesai tindakan.
Perawat :
1. Perawat membersihkan dental unit, pegangan lampu, kursi dan pegangan tangan dengan tissue desinfektan.
2. Membersihkan cuspidor dengan menyikat menggunakan air sabun dan sodium hipoklorit.
3. Menggunakan suction high power saat tindakan.
4. Perawat sirkular memberikan kassa, kapas, tumpatan sementara , anestetikum, cotton pellet dll bila diminta.
5. Perawat asisten menerima tumpatan sementara, anestetikum,spuit dll dari perawat sirkular.

Tindakan :
1. Minimalkan ronsen intra oral karena akan merangsang sekresi saliva dan  batuk serta berisiko bagi petugas radiologi.
2. Ronsen ektra oral lebih disarankan.

3. Tindakan  exo : 
a. Kumur pasien dicampur dengan povidone iodine.
b. Air kumur hanya dari dental unit.
c. Kuret socket pasca exo dan spuling dengan povidone iodine.
d. Setelah pasien menggigit tampon, pasien diusahakan tidak berbicara agar menghindari droplet.

4. Tindakan konservasi
a. Komposit, tumpatan sementara tidak berada di dental unit dan hanya diberikan oleh perawat sirkular.
b. Light cure probe dicuci dan disterilkan setelah selesai tindakan.

TAHAP II 
Tidak melakukan tindakan kecuali dental  emergensi  (bila dinyatakan lockdown)!

NOTE: 
Mohon kepatuhan dari seluruh Dokter Gigi dan Perawat Gigi dalam menggunakan Alat Pelindung Diri dan melakukan Kebersihan Tangan dalam setiap melakukan tindakan kepada Pasien. Petunjuk lebih lanjut akan kami informasikan segera

Sumber : 
1. Guidelines for the Diagnosis and Treatment of Novel Coronavirus Pneumonia 5th edition , National Health Commission of the People’s Republic of China
2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Emerging and Future Challenges  for Dental and Oral Medicine, 2020
3. Covid 19, infection controls in dental practice, 2020

31 Maret 2020

Akhirnya....Pasang IUD ! (Pengalaman Pertama)

0 komentar
Saya mengalami "kebobolan" pas hamil anak ke-4. Saya mengetahui kehamilan ke-4 di usia kandungan 6 minggu, saat Libur Lebaran tahun 2019 lalu.

Awalnya, feeling saya memang mencurigai diri saya tengah berbadan dua, karena saya merasa perubahan di perut saya ada rasa agak menebal. Saya pun ingat di bulan Ramadhan tahun 2019 lalu, puasa saya full. Saya tidak kedatangan tamu bulanan seperti biasanya. Yah senang sih tidak ada hutang puasa, hehe tapi juga muncul rasa cemas jangan2 saya hamil. Tapi saya masih menunggu telat seminggu lagi. Karena siklus haid saya, memang 35-45 hari. Bukan normal 28 hari. Maka itu, puncak masa subur saya sulit di prediksi secara akurat, walo saya sudah memakai alat ovutest untuk memprediksi masa ovulasi. Dan saya ingat2 hubungan sebulan terakhir memang tidak memakai alat pengaman. Yah, si Ayah sok tau gitu katanya ngga apa2 lagi ngga pas masa subur...😣

1-2 minggu telat haid, saya pun baru memutuskan membeli test pack. Ternyata benar feeling saya, muncul 2 garis merah! 

Positif...

Antara senang tapi juga shock dan cemas. Karena ke-3 anak-anak saya masih terlampau kecil2. Saya membayangkan betapa rempongnya mengurus 4 anak yang masih kecil2.
Tapi saya berusaha jalani saja dulu. Berdoa agar banyak kemudahan dari Allah.

Sebulan pasca melahirkan, saya baru kembali ke RS untuk kontrol lahiran ke Dr Yuditiya, beliau dokter kandungan yang menolong saya melahirkan. Orang2 mah kontrolnya seminggu pasca melahirkan, saya kontrol sebulan kemudian karena Alhamdulillah ngga ada keluhan dan memang saya repot sekali mengurus bayi dan ke 3 kakaknya tidak sempat kemana2.

Dari hasil USG, rahim saya sudah dinyatakan bersih. Ukuran rahim saya sudah kembali seperti semula, seperti ukuran telur, kata dokter.

Saya konsul tentang masalah KB.
Karena saya takut kebobolan lagi seperti sebelumnya.
Saya ingin fokus dulu merawat ke 4 anak saya.
Dokter menyarankan saya mengambil KB Spiral / IUD. Tidak ada efek samping dan tidak berpengaruh pada hormon menyusui (non hormonal), tidak  mempengarui siklus menstruasi dan tidak membuat gemuk.
Hati2 memakai KB hormonal dalam jangka waktu lama. 
KB impant juga menurut dokter kandungan saya sudah tidak di rekomendasikan lagi, karena bisa menyebabkan keropos tulang.
Serem banget ya dengernya.

Di rumah, saya juga konsultasi by WA ke teman sekolah saya yang seorang dokter umum. Saya menanyakan kapan waktu yang tepat memasang KB IUD ini. Teman saya menyarankan saat haid aja atau segera setelah nifas, agar mulut rahimnya masih lunak dan terbuka sehingga lebih mudah dipasang dan tidak terlalu nyeri saat mulut rahim dibuka dan IUDnya dipasang.

Akhirnya saya diskusi dengan si Ayah dan kami memutuskan menggunakan KB spiral setelah 40 hari pasca partus. 

Hari Sabtu, tanggal 14 Maret 2020, saya kembali ke RS untuk pasang KB. Sebelumnya saya sudah mencari jadwal praktek dokter yang tidak terlalu ramai dan memutuskan pergi ke Dr Ni Made Desy Suratih , SpOG (K). Teman saya ada yang promil dengan beliau, katanya beliau orangnya enak dan asik di ajak diskusi.

Kesan pertama berjumpa beliau.
Cantik dan Ramah πŸ˜ƒ. 
Sepatu bootsnya keren banget 😍.

Setelah mengutarakan maksud kedatangan, saya disuruh segera tiduran, di lakukan USG perut untuk melihat kondisi rahim dan memastikan saya tidak sedang hamil. Setelah semua oke, saya pun di instruksikan naik ke kursi buat pasang IUD, sesudah melepas celana.
Posisi seperti orang mau melahirkan.
Oiya , anak2 ngga boleh lihat ya.
Takut trauma.
Kebetulan saya ajak anak ke 2 saya, dia maunya ngikutin saya terus kan.
Saya kasih HP aja dulu sebentar biar anteng. Saya bilang : "Kak, suaranya dikecilin ya..."
Tapi Dr Nimades bilang , "ngga apa2 bu, yang penting anaknya anteng dulu".
Wkwkwk...:D

Sakit ngga pasang KB IUD?
Bentuknya kecil, dipasangnya sih ngga sakit cuma ngilu sedikit. Tapi di buka mulut rahim ama alat cocor bebeknya itu yang menurut saya sakit. Sehingga bikin otot2 sekitar b*k*ng jadi kaku dan tegang, alatnya jadi keluar2 mulu deh.
Padahal saya udah berusaha santai dan rileks lho. Udah atur nafas, tarik nafas, buang nafas dll, tapi emang kerasa ngga nyaman banget dimasukkin benda asing.

Prosesnya sekitar 15 menit. 
Kata dokter, itu karena alat cocor bebeknya keluar2 mulu. Karena posisi saya kaku. Hehehe... Bisa lebih cepat prosesnya sebenarnya kalo alatnya ngga keluar mulu.

Setelah itu di USG kembali untuk memastikan posisinya benar.
Selesai.

Saya pake IUD merk Nova T.
Efektif untuk penggunaan 5 tahun.
Jika sebelum 5 tahun, mau promil lagi boleh dilepas kapanpun.
Setelah 5 tahun, di ganti baru.

Kontrol KB IUD
Dr Nimades menyuruh saya kontrol 1 bulan lagi setelah pemasangan. Lanjut kontrol 3 bulan lagi. Lalu 6 bulan lagi. Selanjutnya 1 tahun 1x.
Tujuannya untuk melihat posisi IUD masih pas atau geser.
Kalo geser, yah bisa kebobolan lagi πŸ˜….

Efek samping setelah dipasang
Alhamdulillah ngga ada keluhan sejauh ini. Jalan kayak biasa, duduk kayak biasa, masih bisa gendong bayi juga ngga berasa apa2.

Hanya setelah dipasang, saya mengalami menstruasi lama sekitar 14 hari/2 minggu. Selanjutnya berkurang dan berhenti sendiri.

Semoga dengan ikhtiar ini,tidak perlu merasa was-was hamil lagi seperti dulu dan kalo ingin hamil lagi, bisa lebih siap dan terencana πŸ˜Š.

26 Maret 2020

Kisah Mahmud Abbat (Mamah Muda Anak Baru Empat) πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

0 komentar

Nama panggilanku Rika :)
Silakan panggil nama saja, atau Kak Rika, atau Mama Rika, atau Bunda Rika. Asal jangan panggil Mbak :D
Anakku baru 4.
Aku menikah di usia muda, saat masih kuliah di sebuah universitas swasta di Grogol-Jakarta Barat.
Setelah menikah, aku tidak langsung hamil. Aku kosong 4 tahun. Memang aku belum siap hamil dulu, karena masih fokus menyelesaikan kuliah dan masih ingin bebas bermain bersama teman2ku.

Percayalah...
Dulu aku adalah perempuan yang bebas. Pergi kemana saja secara mandiri.
Bisa seharian loncat dr satu tempat ke tempat lain tanpa capek.
Kumpul sana kumpul sini berhahahihi.

Dan ya...
Semua berubah begitu saja ketika punya anak..
Aku lebih sering di rumah dengan bayi bayi kecil. Bingung, jenuh, capek...
Fiuh...

Itulah fase dimana aku ingin bebas.
Sesekali saja memiliki me time tanpa diganggu urusan rumah dan anak anak.
Aku butuh waras.
Aku butuh piknik, kalo kata orang.
Terpikir jalan jalan, atau belanja...

Ya...
Aku pernah berada di fase itu..

Sampai suatu ketika aku benar benar bisa memiliki 'me-time'ku.. tanpa di buntuti anak2ku...

Aku menyusuri pusat perbelanjaan tanpa mereka..
Melangkah tanpa mereka..
Memegang handphone ku tanpa ada yang merebut..
Duduk dengan tenang di kendaraan tanpa ada yang menginjak pahaku agar ia dapat melihat keluar jendela ...

Tapi, apa yang terjadi...
Aku mencari mereka dalam sepiku..
Aku berharap mendengar suara anak2ku..
Sepanjang hari hanya wajah2 mereka yg terbayang...

Ah...ternyata...
Ternyata kini tanpa mereka aku tidak bahagia...
Aku kira aku akan menikmati kesendirianku...
Atau, kebebasanku...
Tapi aku salah...

Sekarang aku tahu...
Bahwa bahagiaku kini berbeda....
Tak ada yg lebih membahagiakan kecuali berada di tengah2 kalian..
Bagaimanapun keadaanya..
Apapun suka dan duka nya....

Be Happy Mom...
Nikmati peranmu...
Nikmatilah mencintai dan dicintai setulus hati...^^
Apalagi anak perempuan, Mom..
Waktunya dekat orangtua hanya sementara , semoga jodohnya mau tinggal dekat kita.......aamiin aamiin Yaa Robb, kabulkanlah.

Be Happy Mom...:)
Nikmati masa2 indahnya di kuntitin anak2 , karena perlahan tapi pasti mereka akan mandiri dengan sendirinya 😘😘😘.

Kelahiran Anak ke - 4 😘

0 komentar

“Uidzuki bikalimatillahi tammah minkulli syaitonin wahammatin waminkulli ‘ainin lammah …“

“Aku memohonkan perlindungan untukmu dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setiap setan, binatang berbisa yang mematikan, dan dari penyakit 'Ain.

Alhamdulillah, anak ke-4 ku sudah lahir akhir bulan Januari lalu. Tepatnya tanggal 29 Januari 2020. Sekarang, berarti usianya jalan 2 bulan. Dia lahir melalui proses normal (per vaginam). Kondisinya baik dan sehat. Aku dan ayahnya memberinya nama : "Bintang".

Aku masih takjub dengan kuasa-Nya, Allah begitu Maha Sempurna menciptakan saluran reproduksi kaum ibu, proses pertemuan sel telur dengan sperma, menjadi embrio (segumpal darah), janin (segumpal daging) lalu ditiupkan roh berkembang menjadi seorang bayi. Di ciptakannya pula "jalan lahir" yang begitu elastis, bisa membuka dan merapat lagi sehingga kepala bayi yang sekeras ini bisa melewatinya. Sungguh Allah Maha Pencipta yang Sempurna.

Jujur, sebenarnya aku pernah mau menyerah waktu mengeluarkan kepala #AdekBintang. Karena tenagaku lagi habis, gegara aku lavaaaarrr dan belum makan...hehehe.
Tapi memang nikmatnya nafsu makan sedang di cabut sama Allah, sampe ice mangonya aja baru diminum setelah lahiran, karena emang ngga nafsu.
Syukurnya aku masih sempat sarapan pagi, waktu gelombang cinta datangnya belum terlalu intens. .
Berkat pertolongan Allah dan aku melihat sekelilingku bahwa aku dikelilingi orang2 baik yang udah siap membantuku melahirkan (ada suamiku, dokter kandunganku dan tim medis), andai terjadi apa2 pun aku udah ada di tempat /provider yang tepat dan ditangan yang tepat yang akan sigap menolong....

Saat dokter bilang : "Yuk, boleh ngejan bu..." Bismillah, perjuangan bunda tinggal sedikit lagi dek, ayo bantu bunda dek, ayo keluar dek....Perlahan aku kumpulkan sisa2 energiku, aku atur dan tarik nafas dalam2, aku tunggu kontraksi tiba lagi dan yes Alhamdulillah kontraksi disertai mules seperti mau BAB datang, segera aku mengejan ....tanpa kuhitung udah berapa kali aku mengejan, dan yah kepalamu yang keras itu pun akhirnya keluar....Fyuuh...Alhamdulillah.

Lega ...
Walo masih nyeri2 sedap dijahit. Yah daging di masukkin jarum gitu πŸ˜„, entah dibius atau ngga, tapi yang kurasakan nyeri. Aku hanya meringis sambil menahan nyeri.

Namun, rasa lelah dan sakit sejak pembukaan berhari-hari itu pun rasanya terbayar melihat bayiku dalam buaian.

Aku selalu mendoakanmu dan kakak2mu menjadi anak yang shalih, baik, berbakti pada orangtua dan bermanfaat bagi sesama makhlukNya. Aamiin.

16 November 2019

29 Weeks ...Kehamilan ke-4 ku πŸ’–

0 komentar

Bismillah...

Akhirnya ketemu juga blog saya yang sudah lama saya abaikan 😁😁😁. Dan selama hiatus dari menulis blog, sebenarnya saya sudah melahirkan anak ke -3. Alhamdulillah, perempuan lagi dan kini anak ke-3 saya sudah berusia 2 tahun. Namanya Fathimah 😘😘😘. 

Saya belum sempat menuliskan kisahnya di blog, karena kerepotan di dunia nyata mengurus anak2 serta pekerjaaan dan ternyata Qodarullah, Allah berikan saya amanah lagi, calon anak ke-4, in syaa Allah.

Walaupun awalnya saya agak shock dan kaget sewaktu melihat hasil testpack garis merah dua, karena belum rencana hamil berdasarkan beberapa pertimbangan tapi Alhamdulillah pada akhirnya mental dan hati mulai menerima dan mulai beradaptasi lagi.

Karena belum kepengen nambah dan masih capek ngurusin anak ke - 3, well rezeki wajib disyukuri, tiap anak insyaAllah bawa rezekinya masing2.... Aamiin.

Semoga Allah Ta'ala menguatkan fisik dan badanku yang sering sakit2an ini untuk mengandungnya hingga tepat waktunya dilahirkan, mempertebal imanku dan menguatkan psikisku, kesabaran dan mentalku untuk kembali memikul amanah ini ...Sehat dan sabar, 2 kunci utama dalam mulai mengurus newborn baby lagi... Semoga Allah beri kekuatan...aamiin 😊

#G4P3
#4thpregnancy
#Bismillah.. .kuaaaatπŸ™

7 Desember 2015

Long Distance Married ☺

2 komentar


Lama sekali ngga menulis blog, mungkin karena udah zamannya social media ya jadi enakan ngetik status di FB, Path, Instagram.  Lebih rame, yang komen lebih banyak daripada ngblog. Hihihi... 
Tapi, tetap Blog punya tempat istimewa di hati #cie, karena disini bisa mencurahkan isi hati tanpa dihakimi #ehm
InsyaAllah diusahain tetap nulis, minimal setahun sekali lah... Hahaha
Sejak Maret 2015 lalu, saya dan anak2 sudah kembali ke Bekasi setelah 1,5 tahun merantau ke Sulawesi Utara diantar suami. Dan sejak itu pula,  dimulailah hubungan jarak jauh kami atau saya sebut 'Long Distance Married'  (LDM).
Yang menjalani LDM ini banyak, bukan saya aja, jadi faham lah rasanya kalo ditanya bagaimana perasaannya. Nano nano, manis asam asin rame rasanya ..Yah sedih, kangen, rindu semua campur jadi satu. Hehe. Tapi harus sabar menjalaninya. LDM ini takdir .
Ayahnya anak anak masih bekerja di pulau Sulawesi, beliau pulang sebulan sekali. Jadi 4 minggu kerja,  2 minggu pulang ke Bekasi. Syukur LDM nya masih di Indonesia, beda waktu hanya 1 jam, kita masih memiliki 2 musim yang sama, memandangi purnama yang sama *sok Rangga dan Cinta gini .
Yang terpenting dari hubungan pernikahan apapun bentuknya, adalah komunikasi dan saling percaya. Alhamdulillah komunikasi intens setiap hari insyaAllah saling memberi kabar dan posisi masing-masing, terutama laporan perkembangan dan pertumbuhan kedua anak kami.
Saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Saling mendoakan kondisi masing-masing semoga sehat selalu dimanapun. Berserah diri pada Allah semoga Allah menjaga hatiku dan hatinya dimanapun .
Ujian terberat dari LDM adalah ujian kemandirian. Kemana2 sendiri, mau ngapain aja sendiri, urus anak-anak sendiri. Alhamdulillah saya dibantu kedua orangtua saya buat mengasuh anak-anak. Bersyukur rumah saya ngga jauh dari rumah orangtua. Sangat bersyukur, tanpa mereka, saya akan kerepotan sekali.  Jasa mereka besar sekali pada saya dan anak2. Semoga Allah selalu menjaga mereka. Aamiin .
Yang berat, kalo kedua anak sakit bersamaan atau gantian ketika ayahnya sedang jadwal bertugas. Butuh mental dan fisik yang kuat merawat anak2 sakit sendirian, sedih melihat anak-anak jatuh sakit bersamaan beberapa kali, mental saya drop saking sedihnya melihat kedua buah hati yang biasanya sangat energik dan ceria harus terbaring lemas. Tapi lambat laun,  hal sulit berlalu juga. Alhamdulillah.. Dinikmati aja pada akhirnya .
At least, saya masih bisa bertemu suami sebulan sekali.  Ini sangat saya syukuri. Karena banyak rekan LDM mungkin baru bisa bertemu suaminya beberapa bulan sekali, bahkan jika suaminya di luar negeri bisa setahun sekali.
Untuk teman2 yang tidak menjalani LDM dan bisa selalu bersama suami, semoga bisa lebih empati terhadap temannya yang menjalani LDM dan tidak memberikan komentar yang kurang mengenakkan.
Semua istri sebenarnya pasti ingin selalu bersama suaminya, menemani suaminya kemanapun serta menunaikan tugas dan bakti kepada suaminya , tapi ada alasan-alasan yang tidak wajib juga diceritakan yang mengharuskan suami dan istrinya LDM dan suami istri ridho akan hal tsb. Pasti ada alasannya, dan mungkin tidak perlu di beritahu. Cukup doakan kebaikan semoga mereka semua bisa segera berkumpul lagi. Itu lebih baik kan 

7 Mei 2015

Drama Menyusui (bagian 2-selesai)

6 komentar

Maasyaa Allah...saya lupa punya janji menuliskan kelanjutan kisah menyusui pasca frenotomy anak kedua kami. Hehe...Dan sekarang Adek Asiyah (nama anak kedua kami) tepat berusia10 bulan, artinya 9 bulan kelupaannya. Maaf lama banget yaa ^^

Ok...saya inget inget dulu, mendadak ngblank nih..heuheu 😂😂😂.

Malam hari setelah di insisi, Asiyah masih rewel bobonya, sepertinya masih sakit pasca di insisi, karena proses frenotomy pada bayi tidak di anestesi jadi ya berdarah2 mulutnya. Pakai betadine saja dan proses penyembuhannya dengan ASI/ menyusui....Di rumah kurang lebih 5x sehari secara rutin, bibir lidah dan mukosa pipi di usap2 pelan (senam) agar tidak melekat kembali tali lidah yang sudah di potong. Selama seminggu saya terapi seperti itu. Pelan2 sudah tidak rewel lagi

Seminggu kemudian, saya kembali kontrol ke dokter konselor laktasi. Dan Alhamdulillah BB adek naik hampir 500 gr dalam waktu seminggu menjadi 4,100 gram dari sebelumnya 3,600 gram. Ternyata memang benar, proses menyusui adek kemarin terhambat karena taki lidah pendek (tongue tie). Saya pun membantu dengan mengkonsumsi suplemen pelancar ASI.

Sebulan kemudian kembali observasi ke DSA sekalian adek imunisasi BCG. Dan BB adek naik 900 gram, dari bulan lalu. Alhamdulillah sudah mengikuti garis kurva Growth Chart WHO. Dan lama menyusui sudah tidak berjam-jam lamanya lagi seperti awal-awal.

Semoga Kakak Qonitah dan Adek Asiyah sehat, pintar dan shalih selalu ...aamiin 😇

Asiyah sudah Sarjana ASI S1...Semoga 2 bulan lagi bisa menuju S2....Yeah, bisa....pasti bisa...optimis bisa...Ya ya ya!! ^_^

19 Agustus 2014

Drama Menyusui (bagian 1)

0 komentar

Sebelumnya, saya mau cerita sedikit, anak kedua kami Alhamdulillah udah lahir tgl 8 Juli' 14 lalu, pas banget hari ke 10 Ramadhan 1435 H, melalui persalinan normal...Saya bersyukur banget persalinan kedua ini benar2 dimudahkan, pembukaan mulai hari Ahad siang, lahir Selasa pagi jam 07.11. Jadi nahan mules ngga sampai 2 hari, beda sama kakaknya lebih lama. Maklumlah anak pertama :D

Seminggu pasca persalinan, khan kontrol . Oya, ayahnya memberi nama "Asiyah Al Karimah". Dicek lab, bilirubin adek Asiyah cukup tinggi yakni 18.5 mg/dl sehingga DSAnya memutuskan untuk di fototerapi. Ya sudahlah, hiks hiks, adek pun menginap 2 hari di Perina, di blue light double sementara bunda merah ASI terus biar proses penyinaran lebih efektif, soalnya kalo disusuin langsung bisa lama banget. Setelah 2 hari, adek Asiyah bilirubinnya turun jadi 7,7 jadi Alhamdulillah bisa balik ke rumah.

Di rumah, drama ASI pun dimulai....Jreeng..

Yaa Allah, inilah yang bikin bingung ya. Apa ASI kurang? Sedikit? Adek nyusu lama banget, bisa berjam2 dan setelahnya tidur baru 5-10 menit bangun lagi, minta nyusu lagi. Kayak haus mulu, ngga kenyang2 padahal sudah lamaaa banget disusui. Bunda udah tepar banget, sampai ngga bisa melakukan kegiatan lain. Sampai mikir ASI sedikit kali, makanya adek ngga kenyang2. Jadi pesimis gitu padahal udah pengalaman sukses kasih ASIX ke kakak. Tapi untungnya belum nyerah ke sufor, meski udah hampir mau nyerah saking capeknya ngga bisa istirahat.

Dan usia adek Asiyah sebulan, kita kontrol lagi sekalian vaksin hepatitis B kedua, BB adek cuma naik 4 ons (400 gr) jadi 3600 gr (BB lahir 3200 gr, 7 hari usia adek sempat turun jadi 3000 gr dan itu masih normal bayi newborn turun bb beberapa hari kemudian). Nah, kurang lah naiknya. Apalagi 3 bulan pertama minimal kenaikan 750-900 gr, harusnya naik pesat. Di evaluasi lah cara saya menyusui. Ternyata posisi dan perlekatan udah OK..Trus? Di cek kondisi tali lidah (frenulum lingualis) dan tali bibirnya (frenulum labialis) ternyata pendek dan kaku (tebal) kalo dipegang, ngga lentur gitu.

Inilah sebabnya, saya pun juga lalai memeriksa bagian itu, padahal kerjaan saya sehari2 berurusan sama mulut orang tapi ngga nyangka aja bakal dialamin bayi saya sendiri jadi ngga kepikiran, saking stresnya pasca lahiran 2 minggu suami dinas diluar kota.

Kondisi itu yang di sebut Tongue Tie dan Lip Tie....Ada beberapa type/grade. Browsing aja ya, di milis sehat ada...Ngga semua jenis TT harus di insisi atau frenotomy, tergantung typenya dan apa menyebabkan kesulitan menyusui. Jadi TT ini menyebabkan pergerakan lidah menjadi terbatas, sedangkan ASI keluar melalui pijatan lidah ke areola. Di referlah saya ke Konselor Laktasi.

Beberapa hari kemudian, saya ke KL di poli laktasi RS Hermina Bekasi ama Dr Irma. Di sana, selain dilakukan frenotomi, saya juga diajari posisi menyusui saat berbaring, cara breast compression, tongue exercises dll. Semua termasuk biaya tindakan medis kurleb 400ribuan. Seminggu kemudian kontrol lagi.

Nah, bagaimana kelanjutan proses menyusui pasca insisi TT?

Bersambung ke tulisan selanjutnya ya ^_^

 

Blognya Rika Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template