Lama sekali ngga menulis blog, mungkin karena udah zamannya social media ya jadi enakan ngetik status di FB, Path, Instagram. Lebih rame, yang komen lebih banyak daripada ngblog. Hihihi...
Tapi, tetap Blog punya tempat istimewa di hati #cie, karena disini bisa mencurahkan isi hati tanpa dihakimi #ehm
InsyaAllah diusahain tetap nulis, minimal setahun sekali lah... Hahaha
Sejak Maret 2015 lalu, saya dan anak2 sudah kembali ke Bekasi setelah 1,5 tahun merantau ke Sulawesi Utara diantar suami. Dan sejak itu pula, dimulailah hubungan jarak jauh kami atau saya sebut 'Long Distance Married' (LDM).
Yang menjalani LDM ini banyak, bukan saya aja, jadi faham lah rasanya kalo ditanya bagaimana perasaannya. Nano nano, manis asam asin rame rasanya ..Yah sedih, kangen, rindu semua campur jadi satu. Hehe. Tapi harus sabar menjalaninya. LDM ini takdir .
Ayahnya anak anak masih bekerja di pulau Sulawesi, beliau pulang sebulan sekali. Jadi 4 minggu kerja, 2 minggu pulang ke Bekasi. Syukur LDM nya masih di Indonesia, beda waktu hanya 1 jam, kita masih memiliki 2 musim yang sama, memandangi purnama yang sama *sok Rangga dan Cinta gini .
Yang terpenting dari hubungan pernikahan apapun bentuknya, adalah komunikasi dan saling percaya. Alhamdulillah komunikasi intens setiap hari insyaAllah saling memberi kabar dan posisi masing-masing, terutama laporan perkembangan dan pertumbuhan kedua anak kami.
Saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Saling mendoakan kondisi masing-masing semoga sehat selalu dimanapun. Berserah diri pada Allah semoga Allah menjaga hatiku dan hatinya dimanapun .
Ujian terberat dari LDM adalah ujian kemandirian. Kemana2 sendiri, mau ngapain aja sendiri, urus anak-anak sendiri. Alhamdulillah saya dibantu kedua orangtua saya buat mengasuh anak-anak. Bersyukur rumah saya ngga jauh dari rumah orangtua. Sangat bersyukur, tanpa mereka, saya akan kerepotan sekali. Jasa mereka besar sekali pada saya dan anak2. Semoga Allah selalu menjaga mereka. Aamiin .
Yang berat, kalo kedua anak sakit bersamaan atau gantian ketika ayahnya sedang jadwal bertugas. Butuh mental dan fisik yang kuat merawat anak2 sakit sendirian, sedih melihat anak-anak jatuh sakit bersamaan beberapa kali, mental saya drop saking sedihnya melihat kedua buah hati yang biasanya sangat energik dan ceria harus terbaring lemas. Tapi lambat laun, hal sulit berlalu juga. Alhamdulillah.. Dinikmati aja pada akhirnya .
At least, saya masih bisa bertemu suami sebulan sekali. Ini sangat saya syukuri. Karena banyak rekan LDM mungkin baru bisa bertemu suaminya beberapa bulan sekali, bahkan jika suaminya di luar negeri bisa setahun sekali.
Untuk teman2 yang tidak menjalani LDM dan bisa selalu bersama suami, semoga bisa lebih empati terhadap temannya yang menjalani LDM dan tidak memberikan komentar yang kurang mengenakkan.
Semua istri sebenarnya pasti ingin selalu bersama suaminya, menemani suaminya kemanapun serta menunaikan tugas dan bakti kepada suaminya , tapi ada alasan-alasan yang tidak wajib juga diceritakan yang mengharuskan suami dan istrinya LDM dan suami istri ridho akan hal tsb. Pasti ada alasannya, dan mungkin tidak perlu di beritahu. Cukup doakan kebaikan semoga mereka semua bisa segera berkumpul lagi. Itu lebih baik kan
