31 Maret 2020

Akhirnya....Pasang IUD ! (Pengalaman Pertama)

0 komentar
Saya mengalami "kebobolan" pas hamil anak ke-4. Saya mengetahui kehamilan ke-4 di usia kandungan 6 minggu, saat Libur Lebaran tahun 2019 lalu.

Awalnya, feeling saya memang mencurigai diri saya tengah berbadan dua, karena saya merasa perubahan di perut saya ada rasa agak menebal. Saya pun ingat di bulan Ramadhan tahun 2019 lalu, puasa saya full. Saya tidak kedatangan tamu bulanan seperti biasanya. Yah senang sih tidak ada hutang puasa, hehe tapi juga muncul rasa cemas jangan2 saya hamil. Tapi saya masih menunggu telat seminggu lagi. Karena siklus haid saya, memang 35-45 hari. Bukan normal 28 hari. Maka itu, puncak masa subur saya sulit di prediksi secara akurat, walo saya sudah memakai alat ovutest untuk memprediksi masa ovulasi. Dan saya ingat2 hubungan sebulan terakhir memang tidak memakai alat pengaman. Yah, si Ayah sok tau gitu katanya ngga apa2 lagi ngga pas masa subur...😣

1-2 minggu telat haid, saya pun baru memutuskan membeli test pack. Ternyata benar feeling saya, muncul 2 garis merah! 

Positif...

Antara senang tapi juga shock dan cemas. Karena ke-3 anak-anak saya masih terlampau kecil2. Saya membayangkan betapa rempongnya mengurus 4 anak yang masih kecil2.
Tapi saya berusaha jalani saja dulu. Berdoa agar banyak kemudahan dari Allah.

Sebulan pasca melahirkan, saya baru kembali ke RS untuk kontrol lahiran ke Dr Yuditiya, beliau dokter kandungan yang menolong saya melahirkan. Orang2 mah kontrolnya seminggu pasca melahirkan, saya kontrol sebulan kemudian karena Alhamdulillah ngga ada keluhan dan memang saya repot sekali mengurus bayi dan ke 3 kakaknya tidak sempat kemana2.

Dari hasil USG, rahim saya sudah dinyatakan bersih. Ukuran rahim saya sudah kembali seperti semula, seperti ukuran telur, kata dokter.

Saya konsul tentang masalah KB.
Karena saya takut kebobolan lagi seperti sebelumnya.
Saya ingin fokus dulu merawat ke 4 anak saya.
Dokter menyarankan saya mengambil KB Spiral / IUD. Tidak ada efek samping dan tidak berpengaruh pada hormon menyusui (non hormonal), tidak  mempengarui siklus menstruasi dan tidak membuat gemuk.
Hati2 memakai KB hormonal dalam jangka waktu lama. 
KB impant juga menurut dokter kandungan saya sudah tidak di rekomendasikan lagi, karena bisa menyebabkan keropos tulang.
Serem banget ya dengernya.

Di rumah, saya juga konsultasi by WA ke teman sekolah saya yang seorang dokter umum. Saya menanyakan kapan waktu yang tepat memasang KB IUD ini. Teman saya menyarankan saat haid aja atau segera setelah nifas, agar mulut rahimnya masih lunak dan terbuka sehingga lebih mudah dipasang dan tidak terlalu nyeri saat mulut rahim dibuka dan IUDnya dipasang.

Akhirnya saya diskusi dengan si Ayah dan kami memutuskan menggunakan KB spiral setelah 40 hari pasca partus. 

Hari Sabtu, tanggal 14 Maret 2020, saya kembali ke RS untuk pasang KB. Sebelumnya saya sudah mencari jadwal praktek dokter yang tidak terlalu ramai dan memutuskan pergi ke Dr Ni Made Desy Suratih , SpOG (K). Teman saya ada yang promil dengan beliau, katanya beliau orangnya enak dan asik di ajak diskusi.

Kesan pertama berjumpa beliau.
Cantik dan Ramah 😃. 
Sepatu bootsnya keren banget 😍.

Setelah mengutarakan maksud kedatangan, saya disuruh segera tiduran, di lakukan USG perut untuk melihat kondisi rahim dan memastikan saya tidak sedang hamil. Setelah semua oke, saya pun di instruksikan naik ke kursi buat pasang IUD, sesudah melepas celana.
Posisi seperti orang mau melahirkan.
Oiya , anak2 ngga boleh lihat ya.
Takut trauma.
Kebetulan saya ajak anak ke 2 saya, dia maunya ngikutin saya terus kan.
Saya kasih HP aja dulu sebentar biar anteng. Saya bilang : "Kak, suaranya dikecilin ya..."
Tapi Dr Nimades bilang , "ngga apa2 bu, yang penting anaknya anteng dulu".
Wkwkwk...:D

Sakit ngga pasang KB IUD?
Bentuknya kecil, dipasangnya sih ngga sakit cuma ngilu sedikit. Tapi di buka mulut rahim ama alat cocor bebeknya itu yang menurut saya sakit. Sehingga bikin otot2 sekitar b*k*ng jadi kaku dan tegang, alatnya jadi keluar2 mulu deh.
Padahal saya udah berusaha santai dan rileks lho. Udah atur nafas, tarik nafas, buang nafas dll, tapi emang kerasa ngga nyaman banget dimasukkin benda asing.

Prosesnya sekitar 15 menit. 
Kata dokter, itu karena alat cocor bebeknya keluar2 mulu. Karena posisi saya kaku. Hehehe... Bisa lebih cepat prosesnya sebenarnya kalo alatnya ngga keluar mulu.

Setelah itu di USG kembali untuk memastikan posisinya benar.
Selesai.

Saya pake IUD merk Nova T.
Efektif untuk penggunaan 5 tahun.
Jika sebelum 5 tahun, mau promil lagi boleh dilepas kapanpun.
Setelah 5 tahun, di ganti baru.

Kontrol KB IUD
Dr Nimades menyuruh saya kontrol 1 bulan lagi setelah pemasangan. Lanjut kontrol 3 bulan lagi. Lalu 6 bulan lagi. Selanjutnya 1 tahun 1x.
Tujuannya untuk melihat posisi IUD masih pas atau geser.
Kalo geser, yah bisa kebobolan lagi 😅.

Efek samping setelah dipasang
Alhamdulillah ngga ada keluhan sejauh ini. Jalan kayak biasa, duduk kayak biasa, masih bisa gendong bayi juga ngga berasa apa2.

Hanya setelah dipasang, saya mengalami menstruasi lama sekitar 14 hari/2 minggu. Selanjutnya berkurang dan berhenti sendiri.

Semoga dengan ikhtiar ini,tidak perlu merasa was-was hamil lagi seperti dulu dan kalo ingin hamil lagi, bisa lebih siap dan terencana 😊.

26 Maret 2020

Kisah Mahmud Abbat (Mamah Muda Anak Baru Empat) 😄😄😄

0 komentar

Nama panggilanku Rika :)
Silakan panggil nama saja, atau Kak Rika, atau Mama Rika, atau Bunda Rika. Asal jangan panggil Mbak :D
Anakku baru 4.
Aku menikah di usia muda, saat masih kuliah di sebuah universitas swasta di Grogol-Jakarta Barat.
Setelah menikah, aku tidak langsung hamil. Aku kosong 4 tahun. Memang aku belum siap hamil dulu, karena masih fokus menyelesaikan kuliah dan masih ingin bebas bermain bersama teman2ku.

Percayalah...
Dulu aku adalah perempuan yang bebas. Pergi kemana saja secara mandiri.
Bisa seharian loncat dr satu tempat ke tempat lain tanpa capek.
Kumpul sana kumpul sini berhahahihi.

Dan ya...
Semua berubah begitu saja ketika punya anak..
Aku lebih sering di rumah dengan bayi bayi kecil. Bingung, jenuh, capek...
Fiuh...

Itulah fase dimana aku ingin bebas.
Sesekali saja memiliki me time tanpa diganggu urusan rumah dan anak anak.
Aku butuh waras.
Aku butuh piknik, kalo kata orang.
Terpikir jalan jalan, atau belanja...

Ya...
Aku pernah berada di fase itu..

Sampai suatu ketika aku benar benar bisa memiliki 'me-time'ku.. tanpa di buntuti anak2ku...

Aku menyusuri pusat perbelanjaan tanpa mereka..
Melangkah tanpa mereka..
Memegang handphone ku tanpa ada yang merebut..
Duduk dengan tenang di kendaraan tanpa ada yang menginjak pahaku agar ia dapat melihat keluar jendela ...

Tapi, apa yang terjadi...
Aku mencari mereka dalam sepiku..
Aku berharap mendengar suara anak2ku..
Sepanjang hari hanya wajah2 mereka yg terbayang...

Ah...ternyata...
Ternyata kini tanpa mereka aku tidak bahagia...
Aku kira aku akan menikmati kesendirianku...
Atau, kebebasanku...
Tapi aku salah...

Sekarang aku tahu...
Bahwa bahagiaku kini berbeda....
Tak ada yg lebih membahagiakan kecuali berada di tengah2 kalian..
Bagaimanapun keadaanya..
Apapun suka dan duka nya....

Be Happy Mom...
Nikmati peranmu...
Nikmatilah mencintai dan dicintai setulus hati...^^
Apalagi anak perempuan, Mom..
Waktunya dekat orangtua hanya sementara , semoga jodohnya mau tinggal dekat kita.......aamiin aamiin Yaa Robb, kabulkanlah.

Be Happy Mom...:)
Nikmati masa2 indahnya di kuntitin anak2 , karena perlahan tapi pasti mereka akan mandiri dengan sendirinya 😘😘😘.

Kelahiran Anak ke - 4 😘

0 komentar

“Uidzuki bikalimatillahi tammah minkulli syaitonin wahammatin waminkulli ‘ainin lammah …“

“Aku memohonkan perlindungan untukmu dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari setiap setan, binatang berbisa yang mematikan, dan dari penyakit 'Ain.

Alhamdulillah, anak ke-4 ku sudah lahir akhir bulan Januari lalu. Tepatnya tanggal 29 Januari 2020. Sekarang, berarti usianya jalan 2 bulan. Dia lahir melalui proses normal (per vaginam). Kondisinya baik dan sehat. Aku dan ayahnya memberinya nama : "Bintang".

Aku masih takjub dengan kuasa-Nya, Allah begitu Maha Sempurna menciptakan saluran reproduksi kaum ibu, proses pertemuan sel telur dengan sperma, menjadi embrio (segumpal darah), janin (segumpal daging) lalu ditiupkan roh berkembang menjadi seorang bayi. Di ciptakannya pula "jalan lahir" yang begitu elastis, bisa membuka dan merapat lagi sehingga kepala bayi yang sekeras ini bisa melewatinya. Sungguh Allah Maha Pencipta yang Sempurna.

Jujur, sebenarnya aku pernah mau menyerah waktu mengeluarkan kepala #AdekBintang. Karena tenagaku lagi habis, gegara aku lavaaaarrr dan belum makan...hehehe.
Tapi memang nikmatnya nafsu makan sedang di cabut sama Allah, sampe ice mangonya aja baru diminum setelah lahiran, karena emang ngga nafsu.
Syukurnya aku masih sempat sarapan pagi, waktu gelombang cinta datangnya belum terlalu intens. .
Berkat pertolongan Allah dan aku melihat sekelilingku bahwa aku dikelilingi orang2 baik yang udah siap membantuku melahirkan (ada suamiku, dokter kandunganku dan tim medis), andai terjadi apa2 pun aku udah ada di tempat /provider yang tepat dan ditangan yang tepat yang akan sigap menolong....

Saat dokter bilang : "Yuk, boleh ngejan bu..." Bismillah, perjuangan bunda tinggal sedikit lagi dek, ayo bantu bunda dek, ayo keluar dek....Perlahan aku kumpulkan sisa2 energiku, aku atur dan tarik nafas dalam2, aku tunggu kontraksi tiba lagi dan yes Alhamdulillah kontraksi disertai mules seperti mau BAB datang, segera aku mengejan ....tanpa kuhitung udah berapa kali aku mengejan, dan yah kepalamu yang keras itu pun akhirnya keluar....Fyuuh...Alhamdulillah.

Lega ...
Walo masih nyeri2 sedap dijahit. Yah daging di masukkin jarum gitu 😄, entah dibius atau ngga, tapi yang kurasakan nyeri. Aku hanya meringis sambil menahan nyeri.

Namun, rasa lelah dan sakit sejak pembukaan berhari-hari itu pun rasanya terbayar melihat bayiku dalam buaian.

Aku selalu mendoakanmu dan kakak2mu menjadi anak yang shalih, baik, berbakti pada orangtua dan bermanfaat bagi sesama makhlukNya. Aamiin.
 

Blognya Rika Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template