Senin malam itu tanggal 6 April 2020, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Tapi anak-anakku no 1, 2, dan 3 belum juga beranjak tidur. Mereka masih asik bermain dan melompat-lompat di kasur.
"Ayo sayang pada tidur", kataku.
Tapi mereka tetap asik melompat2 di atas ranjang.
"Ya sudahlah", pikirku. "Nanti juga kalo udah ngantuk bakal tidur sendiri".
Aku bergegas pindah ke kamar tidur belakang, menidurkan bayiku, anak no 4, agar tidak terganggu suara kakak-kakaknya.
Saat sedang menyusui bayiku, tiba-tiba terdengar suara Asiyah menangis kencang. Perasaanku sebagai ibu udah ngga enak. Pintu kamar diketuk-ketuk Qonitah dan Fathimah.
"Bunda, buka bunda, buka....Asiyah bunda, asiyah..." teriak mereka.
"Kenapa?" Aduh ada apa ini, aku merasa ini bukan nangis kayak biasanya.
"Kesini dulu, liat Asiyah, kepalanya berdarah...."
"Astaghfirullah....", sambil kugendong Baby Bintang, aku panggil suamiku untuk ikut melihat ke kamar tidur depan.
*****
Ku lihat, Asiyah menangis kencang sambil memegang kepalanya dan di tangannya ada darah.
Aku teriak spontan, "Ya Allah, Ya Allah, Asiyah sayang, kenapa...?" aku spontan ngga bisa berhenti menangis. Aku ngga tega.
"Bunda....bunda...." , Asiyah hanya memanggilku tanpa menjawab.
"Tadi Asiyah lompat2 di kasur terus jatuh kena pinggiran kasur...", jawab kakaknya.
Rasanya jantungku mau copot, berdegup sangat kencang dan tak beraturan.
"Ya Allah, selamatkan anakku .."
Ayahnya segera menenangkannya. Lalu memeriksa luka di kepala Asiyah.
"Ada yang robek, mas?"
"Iya, tenang dulu...Bunda jaga bayi saja...Bunda ga boleh nangis, bunda udah biasa kan liat darah"
Ayahnya tau aku sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anak dan mudah menangis melihat anak sakit.
Asiyah segera di bersihkan dulu luka-luka dan darahnya oleh Ayahnya dengan kapas dan betadine.
"Robek banyak?" tanyaku cemas.
"Sekitar 2cm.."
"Ayo ke IGD mas, itu lukanya kebuka banyak, harus dijahit, kalo ngga, nanti kuman masuk bisa infeksi..."
Aku segera menyuruh anakku yang pertama membangunkan asisten rumah tangga kami. Aku menitip bayiku dan ke dua anakku padanya.
*****
Sesampainya di RS.
*****
Sesampainya di RS.
Segera, aku dan Ayahnya membawa Asiyah ke RS terdekat. Kami langsung masuk ke ruangan IGD. Dan menceritakan pada dokter jaga malam mengenai apa yang terjadi pada anakku. Lalu dokter melakukan anamnesa (tanya jawab) dan pemeriksaan ke kepalanya.
"Siapa yang sakit Bu?" tanya seorang lelaki tanpa ku ketahui wajahnya karena memakai gaun scrub dan masker.
"Anak saya , dok..."
"Kenapa anaknya Bu?"
"Bocor kepalanya, jatuh".
"Bocor kepalanya, jatuh".
Aku menceritakan kronologis terjadinya, penyebab dan waktu terjadinya. Alhamdulillah tidak ada muntah, kejang, panas setelah kepalanya terbentur pinggir kasur.
Sesudah ditanya-ditanya, kami disuruh menunggu dulu di salah satu ruang perawatan IGD. Ayahnya mengurus administrasi dulu ke bagian pendaftaran RS. Sedangkan aku memeluk dan mengusap kepala anakku sambil menenangkannya.
Sekitar 1/2 jam menunggu, Asiyah dipanggil ke ruang tindakan oleh seorang dokter yang berbeda dan asisten perawat lelaki.
Posisi anakku disuruh tengkurap dan kepala di miringkan. Aku di sisinya memeganginya.
Seorang perawat bertanya ,"Ibu kuat ga ngliatnya? Kalo ga kuat nunggu diluar saja ya..."
"Aku mau sama bunda..." pinta anakku.
"Iya, sayang, bunda nemenin Asiyah..."
"Saya disini saja sus, mendampingi anak saya.." kataku pada perawat tadi.
Segera dilakukan tindakan pembersihan ke luka di sisi kiri kepala anakku. Sebelumnya di cukur/digunting dulu bagian rambut yang tumbuh pada luka robek dan sekitarnya untuk memudahkan proses penjahitan. Selanjutnya luka di deep betadine+kassa sterile berkali-kali sampai mengering. Lalu berkali-kali juga di semprot disinfektan / semprotan NaCl. Kemudian di deep betadine lagi dan dokter melakukan anestesi lokal di bagian lateral ke dua sisi kulit kepala dari luka.
Alhamdulillahnya, Asiyah sangat koperatif dan tidak menangis saat jarum anestesi menembus kulit kepalanya. Setelah baal, dijahit luka sebanyak 4 jaitan. Setelah itu dokter menempelkan antibiotik yang bentuknya seperti plester ke atas luka jaitan lalu mengikatkan benang di kedua ujung masing-masing + memasang perban.
Selanjutnya meresepkan obat antibiotik Amoxicillin syrup dan obat analgetik Sanmol syrup untuk anakku. Setelah membayar dan menebus obat, kami pun boleh pulang.
Selanjutnya meresepkan obat antibiotik Amoxicillin syrup dan obat analgetik Sanmol syrup untuk anakku. Setelah membayar dan menebus obat, kami pun boleh pulang.
Selama seminggu, Asiyah aku keramasi dengan hati2 tanpa menyentuh bagian sisi kiri kepala yang ada bagian luka agar lukanya cepat mengering.
*****
Seminggu kemudian
Kontrol jahitan
Kami menunggu di poli dokter umum RS yang sama. Sebenarnya bisa kontrol dan buka jahitan dimana saja. Tapi aku memilih di RS yang sama agar tidak banyak bercerita berkali-kali, semua sudah ada catatan di medical recordnya.
Tibalah nama anakku dipanggil.
"Bagaimana kondisinya, dok?" tanyaku berharap baik-baik saja.
"Udah kering nih bu, udah boleh saya lepas benangnya ya....", jawab dokter, setelah melepas perban dan memeriksa bekas luka anakku.
"Baik dok..."
"Ada 4 ya bu benang jaitannya..."
"Benar, dok "
"Udah boleh kena air, dok?" tanyaku lagi.
Kembali ke kursi.
"Bekas lukanya bisa hilang , dok?"
"Saya resepin salep ya bu...biar bekasnya memudar. Kasian ya, anak perempuan kalo pitak keliatan bekasnya nanti minder."
"Iya, bener dok..." kataku mengiyakan.
Selesai pemeriksaan, akupun izin permisi.
"Terimakasih ya dok, terimakasih sus, kami pulang dulu"
Selesai pemeriksaan, akupun izin permisi.
"Terimakasih ya dok, terimakasih sus, kami pulang dulu"
"Iya bu" , dokter dan asisten menjawab dengan ramah.
Sampe sekarang, salepnya masih aku berikan selepas mandi pagi dan sore. Bekas jaitan lukanya di kulit agak menimbul. Semoga bisa pudar dan kembali sediakala.
Pakai ini sediaan salepnya.
Sanoskin Melladerm.
Pakai ini sediaan salepnya.
Sanoskin Melladerm.
Ya Rabb...
Lindungilah semua anak-anakku dari segala marabahaya.
Aamiin 🙏🙏🙏








0 komentar:
Posting Komentar
Thanks for comment ^_^